Memilih Asing


Tuhan, terimakasih telah memberi nyawa pada raga manusia menyebalkan itu 🖤

Hei, kamu! Iya, kamu.
Kita menginjak semesta yang sama, kita menatap samudera, cakrawala, serta keindahan lainnya, yang jelas-jelas sama. Kita menghirup aroma embun menyejukkan yang sama disetiap paginya. Kita juga menyapa, bercengkerama dengan orang-orang yang tidak berbeda. Tapi kenapa, seolah jagad raya yang kita tempati ini menjadi berdiri sendiri-sendiri, seolah kau pergi dari bumi, dan aku juga beranjak ke planet lain. Aku berusaha memasang tirai akan rasa malu terhadapmu. Dan ternyata, kau pun tengah membangun dinding kokoh yang membatasi duniamu dan duniaku.

Bukan seperti ini, kau membuat seolah apa yang aku utarakan hari itu adalah akhir, padahal baru saja aku ingin memulai.

Hei!
Apa Tuhan memberi nyawa pada ragamu untuk menjadi manusia yang menyebalkan seperti ini? Kurasa tidak. Kau hanya tidak ingin menyakitiku, kau hanya tidak ingin membuatku kecewa, kau hanya tidak ingin membuatku membuang air mata kan? 

Iya, manusia memang berhak atas rasanya masing-masing. Pada siapa, bagaimana, semua itu tidak bisa jika aku ikut mengendalikan, apalagi menuntutmu untuk memberikan rasa itu padaku.

Tapi, tidak bisakah kau sedikit menghargai, dengan tidak begitu saja pergi, juga meninggalkan rasaku tumbuh sendiri dan tersakiti.

Tolong, setidaknya beritahu aku untuk siapa rasa itu. 

Komentar