Ngga tahu harus memulai cerita dari mana, yang jelas ini bermula ketika aku mulai duduk dibangku SMA. Setiap pagi, ngga setiap hari sih, aku selalu lihat dia; lelaki. Entah dia sedang jalan-jalan atau kadang duduk di seberang rumahnya ditepi jalan yang berlatar sawah, dan dia ngga pernah seorang diri. Selalu ada seseorang yang menemaninya, mungkin ibu, atau kakaknya, atau sodaranya, aku ngga tahu. Selama tiga tahun aku SMA, aku bisa melihat perubahannya, dari yang semula berjalan normal dengan kedua kakinya, lalu aku melihatnya menggunakan alat bantu jalan, terus dia menaiki kursi roda dengan kondisi yang aku lihat saat itu mungkin dia sedang sakit parah. Beberapa saat yang sangat lama tidak lagi aku melihatnya. Sampai suatu hari aku melihat bendera putih dipasang didepan rumahnya. Enggak, bukan, aku pikir itu bukan dia. Ternyata setelah beberapa lama berikutnya, aku melihatnya lagi. Saat itu mungkin yang meninggal adalah salah satu keluarganya yang aku tidak tahu siapa.
Setiap kali bertemu dengannya aku mengharuskan diri untuk tersenyum entah itu dibalas atau tidak olehnya. Lagi-lagi aku melihat perubahan, dia kembali pulih sepertinya. Dan sore hari ini, untuk sekian lama yang terjadi selanjutnya, aku melihatnya lagi. Sedang berdiri di depan rumahnya bersama dua perempuan, seperti sedang menikmati kala sore. Aku percaya diri bahwa dia tadi melihatku, hehe senang rasanya. Aku tersenyum dibalik masker yang ku pakai. Tapi sepertinya dia tidak tahu. Ketika bapakku melajukan motor melewatinya, aku melihat betul di kaca spion bahwa dia masih melihatku. Alhamdulillah dia terlihat lebih sehat. Kapan-kapan aku ingin ngobrol dengannya. Mungkin kalo dibuat cerita dan melibatkannya langsung, ceritanya pasti lebih menyenangkan.

Komentar